Sabtu, 10 September 2016
Myasthenia Grafis
Myasthenia gravis
Miastenia Gravis adalah kelainan autoimun kronis dari transmisi neuromuskular yang ditandai dengan kondisi otot rangka yang lemah.
Miastenia Gravis disebabkan karena terjadinya kekacauan penyimpangan antara saraf dan otot (neuro muscular junction disorder), yang antara lain memengaruhi kekebalan tubuh manusia. Secara sederhana bisa disebut kekacauan penyimpangan antara saraf dan otot, yang antara lain memengaruhi kekebalan tubuh manusia.
Miastenia Gravis dapat menyerang otot apa saja, tapi yang paling umum terserang adalah otot yang mengontrol gerakan mata, kelopak mata, mengunyah, menelan, batuk dan ekspresi wajah. Bahu, pinggul, leher, otot yg mengontrol gerakan badan serta otot yang membantu pernafasan juga dapat terserang.
Miastenia Gravis menyebabkan terjadinya kelemahan progresif dan menyebar pada otot skeletal, yang bertambah buruk setelah beraktivitas dan melakukan gerakan yang berulang-ulang. Miastenia Gravis dapat muncul setelah terjadi ledakan kemarahan dan mengalami remisi secara periodik yang tidak dapat diramalkan. Di dalam ilmu kedokteran penyakit saraf (neurologi), MG termasuk jenis penyakit sulit yang tingkat kegawatannya tinggi. Penderita mengalami kelumpuhan otot secara bertahap dan jika akut akan mengalami gagal napas yang bisa mengakibatkan kematian
Miastenia Gravis (MG) termasuk penyakit langka. Penderitanya boleh dibilang 1 di antara 1.000. Miastenia Gravis dapat menyerang semua usia, namun paling banyak ditemukan pada usia antara 20 sampai 40 tahun. Miastenia Gravis lebih banyak menyerang wanita dibanding pria, yaitu 3:1, tetapi setelah usia 40 tahun, penyakit ini tampaknya dapat menyerang pria maupun wanita secara seimbang. Sekitar 20% bayi yang dilahirkan oleh ibu penderita Miastenia Gravis akan memiliki miastenia yang tidak menetap/transient (kadang permanen).
Penyakit ini akan muncul bersamaan dengan gangguan sistem kekebalan dan gangguan tiroid; sekitar 15% penderita miastenia gravis mengalami thymoma(tumor yang dibentuk oleh jaringan kelenjar thymus). Remisi terjadi pada 25% penderita penyakit ini.
Perjalanan klinis dari Myasthenia Gravis sangat bervariasi antara pasien satu dengan yang lainnya. Dari sekian banyak pasien Myasthenia Gravis, 14 % hanya dengan gejala-gejala mata saja yang mengarah pada ocular Myasthenia Gravis.
Myasthenia Gravis juga menyerang otot-otot wajah, laring dan faring. Keadaan ini dapat menyebabkan regurgitasi melalui hidung jika pasien mencoba menelan (otot-otot palatum), menimbulkan suara yang abnormal atau suara nasal (sengau) serta gangguan bicara (dysarthria), dan pasien tidak mampu menutup mulut, yang dinamakan sebagai tanda rahang menggantung.
Terserangnya otot-otot pernafasan terlihat dari adanya batuk yang lemah, dan akhirnya dapat berupa serangan dispnea (ketidak nyamanan dalam bernafas) dan pasien tidak lagi mampu untuk membersihkan lendir dari trakhea dan cabang-cabangnya. Pada kasus lanjut, gelang bahu dan panggul dapat terserang pula, dapat pula terjadi kelemahan pada semua otot-otot rangka.
Kelemahan otot pada Myasthenia Gravis meningkat pada saat aktivitas yang terus menerus dan membaik setelah periode istirahat. Pasien akan mengalami penurunan tenaga sepanjang hari, dengan kecenderungan kelelahan dalam satu hari, atau menjelang berakhirnya aktivitas. Jika dibiarkan, keluhan umum yang dialami oleh pasien biasanya berkembang menjadi kesulitan pengunyahan selama makan. Gejala dari berbagai kelemahan tersebut cenderung menjadi lebih buruk dengan adanya berbagai macam stress, kepanasan, infeksi serta pada penderita dengan akhir masa kehamilan. Terlalu sedih, stres, kelelahan, marah atau terlalu gembira bisa mengakibatkan penderita MG mengalami kekambuhan bahkan sampai mengalami gagal napas karena saraf-saraf napas tidak bisa bergerak.
Penyebab
Miastenia Gravis disebabkan oleh adanya kegagalan dalam transmisi impuls saraf pada sambungan saraf ke otot.
http://herbalismedik.blogspot.co.id/2016/09/myasthenia-grafis.html?m=1
Kamis, 08 September 2016
Patofisiologi Asma
Pada jalur saraf otonom, inhalasi alergen akan mengaktifkan sel mast intralumen, makrofag alveolar, nervus vagus dan mungkin juga epitel saluran napas. Peregangan vagal menyebabkan refleks bronkus, sedangkan mediator inflamasi yang dilepaskan oleh sel mast dan makrofag akan membuat epitel jalan napas lebih permeabel dan memudahkan alergen masuk ke dalam submukosa, sehingga meningkatkan reaksi yang terjadi. Kerusakan epitel bronkus oleh mediator yang dilepaskan pada beberapa keadaan reaksi asma dapat terjadi tanpa melibatkan sel mast misalnya pada hiperventilasi, inhalasi udara dingin, asap, kabut dan SO2. Pada keadaan tersebut reaksi asma terjadi melalui refleks saraf. Ujung saraf eferen vagal mukosa yang terangsa menyebabkan dilepasnya neuropeptid sensorik senyawa P, neurokinin A dan Calcitonin Gene-Related Peptide (CGRP). Neuropeptida itulah yang menyebabkan terjadinya bronkokonstriksi, edema bronkus, eksudasi plasma, hipersekresi lendir, dan aktivasi sel-sel inflamasi.1,3-6
Patofisiologi Asma
Pencetus serangan asma dapat disebabkan oleh sejumlah
faktor, antara lain alergen, virus, dan iritan yang dapat
menginduksi respons inflamasi akut. Asma dapat terjadi
melalui 2 jalur, yaitu jalur imunologis dan saraf otonom. Jalur
imunologis didominasi oleh antibodi IgE, merupakan reaksi
hipersensitivitas tipe I (tipe alergi), terdiri dari fase cepat dan
fase lambat. Reaksi alergi timbul pada orang dengan
kecenderungan untuk membentuk sejumlah antibodi IgE ab-
normal dalam jumlah besar, golongan ini disebut atopi. Pada
asma alergi, antibodi IgE terutama melekat pada permukaan
sel mast pada interstisial paru, yang berhubungan erat
dengan bronkiolus dan bronkus kecil. Bila seseorang
menghirup alergen, terjadi fase sensitisasi, antibodi IgE or-
ang tersebut meningkat. Alergen kemudian berikatan dengan
antibodi IgE yang melekat pada sel mast dan menyebabkan
sel ini berdegranulasi mengeluarkan berbagai macam media-
tor. Beberapa mediator yang dikeluarkan adalah histamin,
leukotrien, faktor kemotaktik eosinofil dan bradikinin. Hal itu
akan menimbulkan efek edema lokal pada dinding bronkiolus
kecil, sekresi mukus yang kental dalam lumen bronkiolus,
dan spasme otot polos bronkiolus, sehingga menyebabkan
inflamasi saluran napas. Pada reaksi alergi fase cepat,
obstruksi saluran napas terjadi segera yaitu 10-15 menit
setelah pajanan alergen. Spasme bronkus yang terjadi
merupakan respons terhadap mediator sel mast terutama
histamin yang bekerja langsung pada otot polos bronkus.
Pada fase lambat, reaksi terjadi setelah 6-8 jam pajanan alergen
dan bertahan selama 16--24 jam, bahkan kadang-kadang
sampai beberapa minggu. Sel-sel inflamasi seperti eosinofil,
sel T, sel mast dan Antigen Presenting Cell (APC) merupakan
sel-sel kunci dalam patogenesis asma.1,3-6
Sumber : Iris Rengganis Departement of Medical Faculty of Medicine UI, RSCM
Majalah Kedokteran Indonesia, Vol 58, 11 November 2008, hal 445
Http://gurahcor.blogspot.com
Http://theraafiat.blogspot.com
Rumah Sehat Thera Afiat
Jl. Kelapa Sawit Raya Blok DD no.15
Kelapa Gading
Jakarta Utara
Telp/wa 08111494599
087883171247
Mencabut Bulu Hidung
Kebiasaan mencabut bulu hidung tdk baik, akan menyebatkan iritasi bhkan luka pada akar bulu hidung, bs berakibat abses/bisul di dalam hidung tak bisa sembuh sendiri. Jangan coba-coba pula mengobati sendiri bisul tersebut. Diperlukan pengobatan untuk mencegah jgn sampai mengalami radang otak. Sebab, area di atas bibir terdapat pembuluh darah yang langsung mengarah ke otak.
”Luka di area tersebut memungkinkan bakteri atau kuman lain masuk ke tubuh dan menyerang otak, disarankan tdk mengutak-atik bisul/jerawat di area di atas bibir. (Yaniqueen)
Perawatan kebersihan hidung bisa dg bergurah.
http://gurahcor.blogspot.co.id/2016/09/mencabut-bulu-hidung.html?m=1
Http://gurahcor.blogspot.com
Http://theraafiat.blogspot.com
Rumah Sehat Thera Afiat
Jl. Kelapa Sawit Raya Blok DD no.15
Kelapa Gading
Jakarta Utara
Telp/wa 08111494599
087883171247
Rabu, 07 September 2016
Upil
Upil Dalam Hidung
Upil, atau nama ilmiahnya rhinotillexomania, adalah kotoran yang terdapat di lubang hidung yang disebabkan oleh proses pernapasan.
Pada saat kita bernapas, ada di mana mikro-organisme dan debu yang berada di udara masuk ke hidung dan tersangkut di bulu hidung. Itulah makanya warna upil sering terlihat coklat kehitaman, karena itu merupakan warna dari debu yang bertebaran diudara.
Saat kita bernafas di daerah yang memiliki kandungan debu yang banyak di udara atau daerah berpolusi, maka upil yang ada di hidung bisa berukuran sangat besar.
Masya Allah untung saja Allah menciptakan bulu hidung untuk manusia yang berfungsi untuk menangkal debu-debu dan kotoran masuk ke paru-paru. Walaupun debu dan mikro-organisme itu bisa melewati bulu hidung, masih ada lendir/ ingus yang bertugas membantu bulu hidung mencegah kotoran dan mikro-organisme memasuki paru-paru.
Selain sebagai saringan, bulu hidung dan lendir/ingus berfungsi untuk membantu meningkatkan kelembaban udah yang kita hirup agar nyaman saat masuk paru2. (Yaniquin).
Http://gurahcor.blogspot.com
Http://theraafiat.blogspot.com
Rumah Sehat Thera Afiat
Jl. Kelapa Sawit Raya Blok DD no.15
Kelapa Gading
Jakarta Utara
Telp/wa 08111494599
087883171247
Manfaat Bidara
Manfaat Bidara.
Daun bidara banyak manfaatnya, utk gngguan jin, sihir, penyakit medis dan kecantikan..
1. Daun bidara mengandung senyawa antibakterial, sehingga sangat efektif untuk mengobati penyakit akibat bakteri ataupun virus, seperti pilek, influenza, flu babi, flu burung dan bahkan HIV/AIDS.
2. Daun bidara mengandung senyawa antioksidan yang sangat tinggi, kandungan inilah yang sangat efektif untuk menjaga kesehatan tubuh kita dari berbagai macam penyakit.
3. Daun bidara mampu mengobati penyakit lambung, antara lain tukak lambung, maag dan bahkan kanker lambung.
4. Mampu mencegah dan mengobati penyakit kardiovaskuler yang sangat berbahaya.
5. Mampu mengobati penyakit diabetes melitus, baik tipe 1, tipe 2 ataupun diebetes gestasional, karena daun bidara mengandung glikemik yang sangat rendah.
Manfaat daun bidara untuk mengobati penyakit.
6. Daun bidara sangat berguna untuk mengobati masalah mulut, seperti sariawan, bibir pecah-pecah, gusi berdarah dan masih banyak lagi.
7. Daun bidara sangat berguna untuk mencegah dan mengobati penyakit pertumbuhan jaringan abnormal, seperti kanker, tumor, kista dan masih banyak lagi.
8. Daun bidara dengan kandungan antiseptik, maka akan sangat berguna untuk mengobati luka, baik luka baru ataupun luka yang sudah lama.
9. Daun bidara sangat berguna untuk memperbaiki sel-sel organ yang mengalami kerusakan, sehingga organ tersebut dapat bekerja secara maksimal.
10. Daun bidara yang masih muda dan segar sangat berguna untuk mengatasi masalah kewanitaan, seperti keputihan, haid tidak normal dan masih banyak lagi.
Khasiat tersembunyi daun bidara untuk kesehatan.
11. Kandungan mineral kalsium yang sangat tinggi pada daun bidara, maka akan sangat efektif untuk menguatkan dan merawat kesehatan tulang ataupun gigi.
12. Daun bidara sangat bermanfaat untuk mengobati demam panas ataupun dingin, baik pada orang dewasa ataupun anak-anak balita.
13. Manfaat daun bidara untuk kulit sangat efektif untuk mengatasi peradangan pada area kulit ataupun organ dalam tubuh.
14. Daun bidara sangat berguna untuk mengatasi bisul ataupun ambeien pada dubur.
15. Daun bidara sangat berguna untuk mengatasi ejakulasi dini atau lemah syahwat.
Http://obatjamu.blogspot.com
Http://theraafiat.blogspot.com
Rumah Sehat Thera Afiat
Jl. Kelapa Sawit Raya Blok DD no.15
Kelapa Gading
Jakarta Utara
Telp/wa 08111494599
087883171247
Minggu, 04 September 2016
Bahaya Trigliserida
Bahaya Trigliserida Tinggi
Trigliserida merupakan salah satu jenis lemak terpenting dan yang utama yang mengalir dalam aliran darah.
Di dalam aliran darah ada HDL atau yang diistilahkan dengan kolesterol baik dan LDL atau yang sering dikonotasikan sebagai kolesterol jahat, jika kadar trigliserida tinggi pada beberapa bagian tubuh misalnya seperti pada dinding pembuluh darah dan juga hati.
Manusia sebenarnya sangat membutuhkan Trigliserida karena tubuh manusia akan memanfaatkannya sebagai energi.
Akan tetapi kadar Trigliserida yang tinggi dapat menyebabkan beberapa keluhan kesehatan seperti misalnya penyumbatan pada pembuluh arteri.
Diabetes termasuk salah satu penyakitnya akibat yang ditimbulkan oleh kadar trigliserida yang tinggi.
Disamping itu Trigliserida yang tinggi juga dapat menyebabkan terjadinya komplikasi, salah satu komplikasi yang bisa saja terjadi jika dalam tubuh seseorang yang mempunyai kadar trigliserida tinggi adalah penyakit aterosklerosis yang berujung kepada munculnya bahaya penyakit jantung dan juga stroke.
Selain itu komplikasi lain akibat tingginya kadar Trigliserida dalam tubuh seseorang adalah timbulnya gejala diabetes yang mana hal tersebut diakibatkan oleh jumlah dari Trigliserida yang sangat tinggi pada sel lemak yang akan merangsang pelepasan dari sel-sel inflamasi tertentu yang biasa disebut dengan cytokine dalam aliran darah.
Komplikasi lain yang juga dapat terjadi akibat trigliserida tinggi adalah sindrom metabolik yang mana sindrom tersebut merupakan gabungan dari beberapa jenis penyakit komplikasi yang terjadi sebelumnya misalnya seperti jantung, diabetes melitus, hipertensi dan juga obesitas.
Pada beberapa orang yang memiliki masalah dengan kolesterol terkadang dengan adanya trigliserida tinggi akan menimbulkan rasa gatal, bintik seperti luka kecil dan jerawat yang bisa muncul pada beberapa bagian tubuh seperti pada tangan, kaki, serta lengan dan juga pada bokong.
Seringkali orang yang memiliki penyakit kolesterol dan memiliki kadar Trigliserida yang tinggi akan mengalami masalah rasa gatal yang sangat mengganggu pada beberapa bagian tubuh tersebut.
Dan jika jumlah Trigliserida dalam darah semakin meningkat maka akan berakibat dengan berlebihnya sel-sel lemak yang ada di dalam tubuh dan yang tersimpan di dalam hati atau liver, yang mana hal tersebut akan membuat organ hati atau liver nantinya lama-kelamaan akan mengalami kerusakan.
Kadar trigliserida yang tinggi seharusnya dinormalkan dengan melakukan tindakan pengobatan secara dini sebagai upaya pencegahan penyakit lanjutan seperti yang telah disebutkan di atas .
Bisa dengan terapi bekam atau terapi lintah. (Sonyabdullah)
Http://bekammedik.blogspot.com
Http://theraafiat.blogspot.com
Rumah Sehat Thera Afiat
Jl. Kelapa Sawit Raya Blok DD no.15
Kelapa Gading
Jakarta Utara
Telp/wa 08111494599
087883171247
Jumat, 02 September 2016
Hipersensitivitas Tubuh
Hipersensitivitas
Jika sistem kekebalan tubuh menimbulkan berbagai macam reaksi yang tidak diinginkan atau hipersensitivitas, Anda harus waspada karena bisa merusak tubuh bahkan berakibat fatal.
Sejatinya fungsi sistem kekebalan tubuh adalah untuk melindungi tubuh dari penyakit dan unsur-unsur yang berpotensi berbahaya untuk tubuh. Namun ada juga kondisi di mana sistem kekebalan tubuh keliru dan bereaksi berlebihan sehingga menimbulkan reaksi yang tidak diinginkan. Hal ini disebut hipersensitivitas. Reaksi yang tak dikehendaki tersebut bisa saja merusak tubuh, membuat tak nyaman bahkan berakibat fatal. Hipersensitivitas meliputi alergi ringan, anafilaksis, hingga kondisi autoimun.
seperti apa kondisi hipersensitivitas - alodokter
Untuk hipersensitivitas terjadi, tubuh pertama akan terpapar unsur penyebab reaksi tersebut atau yang dikenal dengan istilah antigen. Setelah terjadi kontak antara tubuh dan antigen, sistem kekebalan tubuh kemudian bereaksi
Secara umum hipersensitivitas dibagi menjadi empat tipe, yaitu:
Reaksi hipersensitivitas tipe 1
Tipe ini sama dengan alergi dan biasa disebut reaksi hipersensitivitas langsung atau segera. Reaksi hipersensitivitas tipe 1 melibatkan sejenis antibodi yang disebut imunoglobulin E (IgE). Senyawa IgE tersebut akan melepaskan histamin yang kemudian bisa memicu reaksi alergi ringan hingga yang parah seperti anafilaksis. Disebut reaksi hipersensitivitas ‘segera’ karena respons yang terjadi dari hipersensitivitas tipe ini terjadi dalam waktu kurang dari satu jam.
Beberapa reaksi yang timbul akan tergantung sistem organ mana yang terpengaruh. Namun secara umum reaksi hipersensitivitas tipe ini adalah:
Urticaria atau biduran, yaitu ruam gatal pada kulit
Rhinitis atau reaksi alergi pada saluran pernapasan yang menyebabkan bersin, hidung tersumbat atau berair, dan gatal.
Asma menyebabkan penyempitan saluran napas, produksi lendir, dan radang saluran napas yang mengakibatkan sesak pada dada dan kesulitan bernapas.
Anafilaksis adalah reaksi alergi yang berdampak pada seluruh tubuh dan dapat menyebabkan kematian. Reaksi anafilaksis bisa meliputi kesulitan bernapas, tekanan darah menurun drastis dan tenggorokan serta wajah membengkak sehingga berpotensi berakibat fatal. Jika terjadi, penderita perlu segera mendapat pertolongan medis.
Reaksi hipersensitivitas tipe 2
Tipe kedua dari reaksi hipersensitivitas biasa disebut reaksi hipersensitivitas citotoksik yang berarti akibat reaksi hipersensitivitas, sel tubuh yang normal secara keliru dimusnahkan oleh sistem kekebalan tubuh sendiri. Reaksi ini melibatkan antibodi imunoglobulin G (IgG) atau imunoglobulin M (IgM).
Contoh dari reaksi hipersensitivitas jenis ini adalah anemia hemolitik autoimun, trombositopenia, penyakit rematik jantung, penolakan transplantasi organ, dan jenis radang kelenjar tiroid Hashimoto.
Reaksi hipersensitivitas tipe 3
Reaksi hipersensitivitas jenis ini meliputi jenis antibody imunoglobulin (IgM) atau G (IgG). Antibodi dan antigen, yaitu unsur penyebab produksi antibodi, akan bergabung menjadi suatu kombinasi dan beredar dalam darah. Kombinasi antara antibodi dan antigen ini disebut kompleks imun. Kompleks imun kemudian memicu respons inflamasi tubuh dan bisa terdeposit pada pembuluh darah berbagai organ. Misalnya, jika tetanam pada ginjal, dapat menyebabkan glomerulonefritis atau peradangan pembuluh darah ginjal, atau jika tertanam pada sendi, dapat menyebabkan rheumatoid arthritis. Reaksi hipersensitivitas tipe 3 umumnya muncul 4-10 hari setelah tubuh terpajan antigen.
Reaksi hipersensitivitas tipe 4:
Reaksi hipersensitivitas tipe 4 disebut sebagai reaksi hipersensitivitas yang tertunda karena reaksinya relatif lebih lama dibanding dengan tipe-tipe lain. Berbeda dengan tipe hipersensitivitas lainnya yang mana antibodi berperan utama, dalam tipe ini, sejenis sel darah putih yang disebut sel T yang berperan dalam menyebabkan reaksi dan gejala-gejala yang ada. Contoh hipersensitivitas tipe 4 adalah kontak dermatitis dan berbagai bentuk reaksi hipersensitivitas akibat obat-obatan.
Melihat banyaknya reaksi hipersensitivitas yang bisa terjadi, maka penanganan yang dibutuhkan pun tergantung pada jenis reaksi yang diderita. Penderita asma tentu berbeda penanganannya dengan biduran, demikian pula dengan penderita jenis reaksi hipersensitivitas yang lain. Untuk itu konsultasikan kepada dokter agar bisa mendapatkan penanganan dan pengobatan yang tepat. Kenali unsur penyebab hipersensitivitas Anda agar dapat senantiasa dihindari.
Http://herbalismedik.blogspot.co.id
Http://theraafiat.blogspot.com
Rumah Sehat Thera Afiat
Jl. Kelapa Sawit Raya Blok DD no.15
Kelapa Gading
Jakarta Utara
Telp/wa 08111494599
087883171247
Jika sistem kekebalan tubuh menimbulkan berbagai macam reaksi yang tidak diinginkan atau hipersensitivitas, Anda harus waspada karena bisa merusak tubuh bahkan berakibat fatal.
Sejatinya fungsi sistem kekebalan tubuh adalah untuk melindungi tubuh dari penyakit dan unsur-unsur yang berpotensi berbahaya untuk tubuh. Namun ada juga kondisi di mana sistem kekebalan tubuh keliru dan bereaksi berlebihan sehingga menimbulkan reaksi yang tidak diinginkan. Hal ini disebut hipersensitivitas. Reaksi yang tak dikehendaki tersebut bisa saja merusak tubuh, membuat tak nyaman bahkan berakibat fatal. Hipersensitivitas meliputi alergi ringan, anafilaksis, hingga kondisi autoimun.
seperti apa kondisi hipersensitivitas - alodokter
Untuk hipersensitivitas terjadi, tubuh pertama akan terpapar unsur penyebab reaksi tersebut atau yang dikenal dengan istilah antigen. Setelah terjadi kontak antara tubuh dan antigen, sistem kekebalan tubuh kemudian bereaksi
Secara umum hipersensitivitas dibagi menjadi empat tipe, yaitu:
Reaksi hipersensitivitas tipe 1
Tipe ini sama dengan alergi dan biasa disebut reaksi hipersensitivitas langsung atau segera. Reaksi hipersensitivitas tipe 1 melibatkan sejenis antibodi yang disebut imunoglobulin E (IgE). Senyawa IgE tersebut akan melepaskan histamin yang kemudian bisa memicu reaksi alergi ringan hingga yang parah seperti anafilaksis. Disebut reaksi hipersensitivitas ‘segera’ karena respons yang terjadi dari hipersensitivitas tipe ini terjadi dalam waktu kurang dari satu jam.
Beberapa reaksi yang timbul akan tergantung sistem organ mana yang terpengaruh. Namun secara umum reaksi hipersensitivitas tipe ini adalah:
Urticaria atau biduran, yaitu ruam gatal pada kulit
Rhinitis atau reaksi alergi pada saluran pernapasan yang menyebabkan bersin, hidung tersumbat atau berair, dan gatal.
Asma menyebabkan penyempitan saluran napas, produksi lendir, dan radang saluran napas yang mengakibatkan sesak pada dada dan kesulitan bernapas.
Anafilaksis adalah reaksi alergi yang berdampak pada seluruh tubuh dan dapat menyebabkan kematian. Reaksi anafilaksis bisa meliputi kesulitan bernapas, tekanan darah menurun drastis dan tenggorokan serta wajah membengkak sehingga berpotensi berakibat fatal. Jika terjadi, penderita perlu segera mendapat pertolongan medis.
Reaksi hipersensitivitas tipe 2
Tipe kedua dari reaksi hipersensitivitas biasa disebut reaksi hipersensitivitas citotoksik yang berarti akibat reaksi hipersensitivitas, sel tubuh yang normal secara keliru dimusnahkan oleh sistem kekebalan tubuh sendiri. Reaksi ini melibatkan antibodi imunoglobulin G (IgG) atau imunoglobulin M (IgM).
Contoh dari reaksi hipersensitivitas jenis ini adalah anemia hemolitik autoimun, trombositopenia, penyakit rematik jantung, penolakan transplantasi organ, dan jenis radang kelenjar tiroid Hashimoto.
Reaksi hipersensitivitas tipe 3
Reaksi hipersensitivitas jenis ini meliputi jenis antibody imunoglobulin (IgM) atau G (IgG). Antibodi dan antigen, yaitu unsur penyebab produksi antibodi, akan bergabung menjadi suatu kombinasi dan beredar dalam darah. Kombinasi antara antibodi dan antigen ini disebut kompleks imun. Kompleks imun kemudian memicu respons inflamasi tubuh dan bisa terdeposit pada pembuluh darah berbagai organ. Misalnya, jika tetanam pada ginjal, dapat menyebabkan glomerulonefritis atau peradangan pembuluh darah ginjal, atau jika tertanam pada sendi, dapat menyebabkan rheumatoid arthritis. Reaksi hipersensitivitas tipe 3 umumnya muncul 4-10 hari setelah tubuh terpajan antigen.
Reaksi hipersensitivitas tipe 4:
Reaksi hipersensitivitas tipe 4 disebut sebagai reaksi hipersensitivitas yang tertunda karena reaksinya relatif lebih lama dibanding dengan tipe-tipe lain. Berbeda dengan tipe hipersensitivitas lainnya yang mana antibodi berperan utama, dalam tipe ini, sejenis sel darah putih yang disebut sel T yang berperan dalam menyebabkan reaksi dan gejala-gejala yang ada. Contoh hipersensitivitas tipe 4 adalah kontak dermatitis dan berbagai bentuk reaksi hipersensitivitas akibat obat-obatan.
Melihat banyaknya reaksi hipersensitivitas yang bisa terjadi, maka penanganan yang dibutuhkan pun tergantung pada jenis reaksi yang diderita. Penderita asma tentu berbeda penanganannya dengan biduran, demikian pula dengan penderita jenis reaksi hipersensitivitas yang lain. Untuk itu konsultasikan kepada dokter agar bisa mendapatkan penanganan dan pengobatan yang tepat. Kenali unsur penyebab hipersensitivitas Anda agar dapat senantiasa dihindari.
Http://herbalismedik.blogspot.co.id
Http://theraafiat.blogspot.com
Rumah Sehat Thera Afiat
Jl. Kelapa Sawit Raya Blok DD no.15
Kelapa Gading
Jakarta Utara
Telp/wa 08111494599
087883171247
Langganan:
Postingan (Atom)





